Untuk Sahabat Hena Sp, Buatlah Blog ini menjadi lebih hidup dengan memberi komentar di setiap artikel yang anda baca. Thx

Senin, 21 Februari 2011

Melihat Musium Ripley's Believe it Or Not !!

Ripley's Believe It or Not! adalah franchise, yang didirikan oleh Robert LeRoy Ripley, yang berkaitan dalam acara-acara aneh dan barang-barang begitu aneh dan tidak biasa yang mungkin pembaca pertanyaan klaim. Percaya yang ini atau Tidak panel terbukti populer dan kemudian diadaptasi menjadi berbagai format, termasuk radio, televisi, rantai museum, serangkaian buku dan permainan pinball (diproduksi oleh Stern Pinball, Inc).

Koleksi Ripley termasuk 20.000 foto, artefak 30.000 dan lebih dari 100.000 panel kartun. Dengan atraksi 80-plus, mesin Ripley Orlando berbasis Entertainment, Inc, sebuah divisi dari Jim Pattison Group, merupakan perusahaan global dengan pertemuan tahunan lebih dari 12 juta tamu. penerbitan Ripley Entertainment dan divisi siaran mengawasi sejumlah proyek, termasuk serial TV sindikasi, panel kartun surat kabar, buku, poster dan permainan.

Keunikan Bangunan Museum Ripley’s Believe It or Not! di Kanada



Beberapa Koleksi Musium Ripley's Believe it Or Not!!

The Shrunken Head


Ini hanyalah salah satu kumpulan dari beberapa kepala yang paling kurus di dunia. Proses “menyusut kepala” adalah yang paling umum dari Indian JivaroEkuador.

Vampire

Mungkin terlihat seperti vampire biasanya tapi lihat kedua bola matanya.

Koleksi lainnya Cek TKP : http://menujuhijau.blogspot.com/2011/02/mengintip-isi-dari-museum-ripleys.html?showComment=1298253978053#c624546476112580763





Masa depan film Hollywood di Indonesia

Sebuah kabar mengagetkan datang dari Industri perfilman Indonesia. Film impor, khususnya film Amerika, yang selama ini menjadi sumber pemasukan bioskop Indonesia akan dikenakan bea masuk hak distribusi untuk setiap film yang akan beredar di Indonesia. Dengan begitu, film-film asing terancam tidak tayang di Indonesia. Apa hubungannya?


Berita yang satu ini jauh lebih tidak mengenakkan dibandingkan kabar akan adanya demonstrasi besar-besaran di Bundaran HI yang dilakukan FPI atas reaksinya terhadap pernyataan Presiden SBY yang berencana membubarkan FPI. Mulai Januari 2011, Direktorat Bea Cukai memberlakukan aturan baru mengenai bea masuk atas hak distribusi. Itu berarti, setiap film impor yang masuk ke Indonesia akan diperlakukan seperti barang impor lainnya. Kebijakan ini dianggap kurang bijaksana mengingat film tidak dapat dikategorikan sebagai barang. Sebagai informasi, Indonesia adalah satu-satunya negara yang memberlakukan bea masuk untuk hak distribusi terhadap film impor.

Menurut keterangan Noorca M. Massardi, budayawan senior Indonesia yang sekaligus Humas 21 Cineplex, setiap kopi film yang masuk ke Indonesia telah dikenakan bea masuk+pph+ppn yang jumlahnya mencapai 23,75% dari nilai barang. Ditjen Pajak juga selalu mendapatkan pajak penghasilan sebesar 15 persen dari hasil pemutaran setiap film. Pajak tontonan sebesar 10—15 persen pun diberlakukan untuk setiap film yang diputar di Indonesia dan dana tersebut masuk ke kas Pemda wilayah yang bersangkutan. Menanggapi keputusan “gaib” ini, MPA sebagai Asosiasi Produsen Film Amerika memutuskan untuk tidak mendistribusikan seluruh film Amerika di Indonesia mulai Kamis, 17 Februari 2011.

Semua film yang sedang tayang di Indonesia pun bisa sewaktu-waktu dicabut hak edarnya jika pihak pemilik film impor menginginkannya. Keputusan ini terpaksa diambil setelah tidak ada respon positif dari Ditjen Bea Cukai atas keberatan yang diajukan MPA. Belum ada kabar mendetail mengenai alasan Ditjen Pajak memberlakukan bea masuk ini. Yang pasti, kita terancam tidak dapat menyaksikan True Grit, Black Swan, 127 Hours, dan film-film seru lainnya yang sudah kita nantikan sejak tahun lalu.

Ancaman lain juga membayangi 21 Cineplex sebagai pihak yang memiliki hak menayangkan film impor di Indonesia. Hingga saat ini, Indonesia baru mampu memproduksi 50-60 film, jumlah yang masih di bawah standar untuk bisa menutup kerugian yang akan dialami 21 Cineplex atas berhentinya distribusi film Amerika yang selama ini memberikan pemasukan yang cukup besar.

nb : Waaddow,, kacau nich Indonesiaku!!! Bakalan gak bisa nonton HP 7 part 2, Transformer 3, Spiderman 4, Dll. AAaaaarrrgggg

Sumber : http://www.jagatreview.com/2011/02/film-amerika-berhenti-tayang-di-bioskop-indonesia/