Untuk Sahabat Hena Sp, Buatlah Blog ini menjadi lebih hidup dengan memberi komentar di setiap artikel yang anda baca. Thx

Rabu, 23 Februari 2011

5 Gangguan Seks yang Paling Menyengsarakan


Dalam kondisi tertentu, hal-hal yang berhubungan dengan seks tidak lagi terasa nikmatnya. Berbagai gangguan bisa membuat gairah seks justru terasa sangat menyiksa, demikian juga ereksi dan orgasme yang kadang malah merepotkan.

Dari berbagai jenis gangguan tersebut, priapism boleh jadi merupakan gangguan yang paling menyiksa secara fisik karena pada kasus tertentu harus diatasi dengan operasi. Ada juga yang menyiksa secara batin, antara lain parafilia yang membuat penderitanya sulit menemukan pasangan dengan ketertarikan yang sama dengannya.

Selengkapnya, berikut ini 5 jenis gangguan yang membuat seks jadi terasa sangat menyiksa, seperti dikutip dari kracked.com.

1. Hiperseks
Pada wanita, kondisi ini disebut juga dengan istilah nymphomania sementara pada pria disebut satyriasis. Tanda-tandanya adalah tidak mampu mengendalikan hasrat seksual dan kadang-kadang terpaksa harus segera dilampiaskan pada siapapun yang saat itu kebetulan ada di dekat si penderita.

Dilihat dari penyebabnya, kondisi ini mirip dengan orang yang tidak bisa mengontrol nafsu makan karena sama-sama dipicu gangguan sirkuit di otak. Namun orang masih bisa makan kapan saja dan di mana saja, sementara untuk berhubungan seks di sembarang tempat tentu bukan ide yang bagus.

2. Priapism
Nama penyakit ini diambil dari nama dewa kesuburan dalam mitologi Yunani, Priapus. Sesuai penggambaran Priapus yang punya kemaluan besar dan selalu dalam kondisi ereksi, penderita priapism juga memiliki penis yang selalu tegang pada saat-saat yang tak terduga sekalipun tidak ada hasrat dan rangsangan seksual.

Kondisi ini sering dipicu oleh overdosis obat-obat perangsang seperti viagra (sildenafril). Bisa juga dipicu oleh cedera sumsum tulang belakang, lalu menyebabkan aliran darah terkonsentrasi di suatu organ salah satunya alat kelamin yang secara anatomis letaknya cukup rendah untuk dialiri darah.

3. Seksomnia
Jika perilaku berjalan saat tidur (sleepwalking) dianggap berbahaya, maka berhubungan seks saat tidur tidak cuma berbahaya tetapi sekaligus memalukan apabila terjadi saat sedang menginap di tempat orang. Sama seperti sleepwalking, berhubungan seks saat tidur (seksomnia) juga diggolongkan dalam kategori gangguan perilaku saat tidur atau parasomnia.

Bicara soal angka, seksomnia cukup sering terjadi yakni mencakup 8 persen dari seluruh penderita gangguan tidur. Angka ini diperoleh berdasarkan pengakuan pasangan tidurnya, sebab si penderita biasanya tidak dapat mengingat apa yang dilakukannya sepanjang malam.

4. Parafilia
Sesuai dengan asal katanya yakni para (menyimpang) dan phillia (ketertarikan), gangguan ini ditandai dengan penyimpangan hasrat seksual. Cakupannya cukup luas, antara lain meliputi ketertarikan terhadap obyek tertentu dari pasangannya (fetisisme), kekerasan dan penyiksaan (sadomasokisme), mayat (nekrofilia) dan binatang (zoofilia).

Dalam ilmu psikologi, gangguan ini dikategorikan dalam perilaku Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Karena ketertarikannya yang tidak wajar, penderitanya sering kesulitan untuk mendapat pasangan yang cocok. Kalaupun ada, kadang-kadang perilaku seksual yang tidak semestinya itu justru dapat membahayakan dirinya.

5. Persisten Sexual Arousal Syndrome
Sindrom kenikmatan seksual yang terus menerus ini menyebabkan penderitanya selalu merasa horny alias 'mupeng' (muka pengen) meski tidak ada rangsangan seksual. Bahkan pada tingkat kenikmatan tertentu, sindrom ini bisa memicu orgasme spontan tanpa harus berhubungan seks.

Berbeda dengan hiperseks, sindrom ini tidak perlu dilampiaskan dengan berhubungan seks karena kenikmatan itu akan datang sendiri dari rangsang nonseksual misalnya makanan. Karena begitu mudahnya mendapatkan kepuasan, dalam sehari penderita sindrom ini bisa mengalami orgasme hingga 300 kali

sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7172368

Inilah kota ternyaman di dunia


TEMPO Interaktif, Sydney - Kota Vancouver di Kanada masih menduduki posisi teratas sebagai tempat yang paling nyaman untuk ditinggali. Kota lainnya yang menempati urutan kedua dan ketiga adalah Melbourne (Australia) serta Vienna (Austria).

Peringkat ini tidak berubah sejak 2007. Kota lainnya yang baru masuk 10 besar kota ternyaman adalah Auckland (Selandia Baru).

Dalam survei tahunan yang dilakukan majalah The Economist, rating Vancouver untuk menyediakan fasilitas kepada penduduknya adalah 98 persen. Selain aman, kota-kota ini dilengkapi perawatan kesehatan, budaya dan lingkungan, serta pendidikan dan infrastruktur.

"Kota yang tidak terlalu besar di negara maju, dengan jumlah penduduk lebih sedikit, mendapat skor yang lebih tinggi," kata Jon Copestake, editor The Economist. Kota kecil ini dilengkapi layanan infrastruktur yang bagus, tingkat kejahatan yang rendah, tanpa macet, dan lebih berbudaya.

Kota-kota di Amerika Serikat tak tercatat dalam 20 besar. Dalam survei tersebut, Pittsburgh menempati urutan teratas dibanding kota lainnya di Negeri Abang Sam itu. Namun peringkatnya hanya bertengger di posisi ke-29. Sedangkan Los Angeles berada pada urutan ke-44 dan New York pada peringkat ke-56. London naik peringkat, berada di posisi ke-53, sedangkan Paris bertengger pada peringkat ke-16.

Untuk Asia, kota ternyaman adalah Osaka di Jepang yang menduduki peringkat ke-12. Tokyo berada di posisi ke-18. Hong Kong dan Beijing masing-masing berada di posisi ke-31 dan 72.

Survei ini juga menyebutkan kota yang paling tak nyaman untuk ditempati. Harare, ibu kota Zimbabwe, menempati urutan terbawah dengan rating 37,5 persen. Meski demikian, kota ini menggeser Dhaka, ibu kota Bangladesh yang sebelumnya menempati posisi ini.

Economist Intelligence Unit melakukan survei berdasarkan 30 faktor, antara lain kesehatan, budaya, lingkungan, pendidikan, dan keamanan pribadi.


sumber : http://id.news.yahoo.com/tmpo/20110222/twl-vancouver-kota-ternyaman-di-dunia-8e1d4df.html